Saat ini sudah jalan menuju bulan kelima Covid-19 “berkunjung dan menetap” di Indonesia sejak kasus pertama pada 2 pasien di 2 Maret 2020. Lamanya fenomena penyakit ini bertahan di Indonesia kemudian dibuktikan dengan statistik penderita yang terus meningkat dan belum melandai bahkan di seminggu terakhir yang sudah diatas 1000 orang. Namun, berbanding terbalik dengan data yang ada perilaku masyarakat malah makin santai, kerumunan sudah tidak lagi dihindari. Kemudian kita pun dihadapkan pada kondisi adanya berbagai kebijakan pemerintah dalam rangka penanganan Covid yang membingungkan, dan harus membiasakan diri mendengar istilah “new normal”, “lockdown”, “PSBB”, “ODP, PDP, OTG”.

Dengan kondisi yang seperti ini akan sangat wajar jika kemudian muncul pertanyaan dibenak kita, “Sampai kapan?”, “Sudah sangat banyak yang terkena, apa mungkin mereka ada disekitar saya?”, atau “Apakah saya sudah terkena?”. Pemikiran-pemikiran ini secara tidak langsung menimbulkan ketakutan atau rasa cemas pada beberapa individu. Fear dan anxiety muncul sebagai bentuk respon terhadap kemungkinan bahaya yang akan terjadi, namun secara lebih lanjut kedua istilah ini dianggap mempunyai perbedaan secara psikologis yang dapat terlihat dari reaksi yang ditampilkan. Dalam kadar tertentu, fear dan anxiety dianggap perlu untuk kelangsungan hidup manusia.

Fear dan anxiety memunculkan banyak respon yang beragam untuk setiap individu yang dikenal istilah fight atau flight. Flight mengarah pada “pasrah” atau menghindar dengan dicontohkan malah menjadi santai dan cenderung acuh. Fight dimaksudkan untuk mencoba menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan cara yang beragam pula. Beberapa mungkin melakukan beragam tindakan antisipasi untuk menghindari terkena virus Covid-19 ini. Dengan memakai beberapa peralatan pengaman seperti masker atau face shield, membawa hand sanitizer, atau disinfektan untuk berkegiatan keluar jika diperlukan. Namun ada pula yang merasa perlu untuk sampai memakai sarung tangan untuk menghindari sentuhan, benar-benar tidak duduk ditempat umum sampai merasa pegal atau bahkan memilih sama sekali tidak keluar dari rumah untuk alasan apapun. Wajarkah respon yang muncul?

Ketika fear muncul untuk suatu alasan yang jelas atau objek yang nyata hal tersebut masih dapat ditoleransi namun tetap dalam koridor tidak sampai menghambat kelangsungan dan kebahagiaan hidup individu. Namun, ketika berubah menjadi anxiety, rasa takut berlebihan yang digeneralisasi bahkan untuk alasan yang tidak jelas hal sehingga menganggu keberlangsungan hidup, hal ini perlu diperhatikan lebih lanjut. Anxiety dalam kadar yang berlebih dapat memunculkan reaksi fisik seperti keringat berlebihan, jantung berdebar, sakit kepala, serta perilaku sosial yang berusaha menghindari interaksi.

Apa yang bisa dilakukan ketika rasa takut sudah berlebih kemudian muncul reaksi fisik dan menggangu aktivitas sehari-hari? Salah satunya adalah dengan mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut dengan mencari informasi kebenaran yang ada atau melakukan relaksasi untuk menimbulkan kenyamanan dan mengalihkan pemikiran tersebut kepada aktivitas lain. Jika dirasa belum juga berkurang, Anda dapat mencari bantuan kepada ahli salah satunya Psikolog untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Sumber pendukung :

https://www.verywellmind.com/fear-and-anxiety-differences-and-similarities-2584399

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-human-beast/201604/panic-fight-or-flight

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *