• July 27, 2020
  • Septia Hayuningtyas
  • 0

New Normal istilah yang sudah tidak asing lagi didengar selama 3 bulan belakangan ini. Sejak diumumkannya 2 pasien pertama pada 2 maret lalu, seluruh kalangan masyarakat di Indonesia beriap untuk “berlari marathon” karena pandemi covid-19 ini diprediksi akan berlangsung lama.

Pada bulan April 2020, pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk seluruh wilayah di Indonesia sebagai cara untuk memutuskan rantai penyebaran covid-19. Pemerintah menetapkan untuk melakukan aktifitas dari rumah, belajar dan bekerja dari rumah, dan me-nonaktifkan kegiatan di tempat umum, seperti pasar, mall, tempat hiburan ditutup.
Keadaan saat pandemi ini benar-benar berdampak pada aspek kehidupan seluruh kalangan masyarakat tanpa terkecuali.

Pada akhir mei 2020, pemerintah mengumumkan kepada seluruh masyarakat, bahwasanya keadaan ini mungkin tidak akan kembali kedalam keadaan normal seperti semula, maka dari itu, pemerintah menerapkan istilah new normal, new normal adalah adaptasi kebiasaan baru dalam rangka menuju masyarakat produktif dan aman yang sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan covid-19.

Masa new normal yang sudah berjalan kurang lebih 2 bulan. Banyak kalangan masyarakat yang sudah beraktifitas di luar rumah, bahkan tempat-tempat umum sudah sedikit demi sedikit sudah dibuka kembali. Walaupun semua kegiatan dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan pencegahan covid-19, nampaknya hal itu tidak memberikan andil besar, berdasarkan informasi yang didapatkan dari kompas.com, menurut Yurianto (juru bicara pemerintah untuk penanganan covid – 19, masih terjadi penularan virus corona sesuai dengan data pemerintah (Minggu, 12/7/2020) yang menunjukkan terdapat 1.681 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan kasus baru itu menyebabkan kini ada 75.699 kasus Covid-19 di Indonesia.

Apakah masyarakat benar-benar sudah siap dengan new normal?

Menurut sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Ida Ruwaida berpandangan bahwa belum semua lapisan masyarakat siap menerapkan pola hidup normal baru. Menurutnya, dibutuhkan proses adaptasi dan pencarian bentuk yang sesuai dengan kondisi masyakarat. Sebab, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini tidak mungkin bisa langsung mengubah tatanan masyarakat yang sudah terbentuk sebelumnya.

Masyarakat harus menjadikan new normal ini menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan bukan hanya sementara tetapi seterusnya. Disiplin dalam menaati protokol kesehatan adalah keharusan, karena yang dapat menyelamatkan masyarakat adalah diri sendiri.

Masyarakat harus memulai membudayakan pola hidup sehat yang baru seperti; menggunakan masker saat berpergian, rajin mencuci tangan dengan sabun, berolahraga dan makan minuman yang yang bergizi, menjadikan pshycal dan social distancing adalah sesuatu yang biasa, meminimalir kemungkinan berkumpul dan berkerumun, menyiapkan starter kit. Walaupun tidak semua kalangan masyarakat dapat menerapkannya dengan mudah, namun apabila proses adaptasi dilakukan dengan disiplin akan terbentuk juga pola hidup yang baru. Mau tidak mau, ingin tidak ingin, pandemic virus ini masih terus ada, belum ada perkiraan waktu selesainya. Pemerintah dan masyarakat harus saling membantu, saling mengingatkan dan saling menegur supaya dapat berjalan selaras bersama menjalani new normal dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *